Langsung ke konten utama

Jika anak dibesarkan dengan.....

Jika anak dibesarkan dengan Celaan, maka ia belajar Memaki
Jika anak dibesarkan dengan Permusuhan, maka ia belajar Berkelahi
Jika anak dibesarkan dengan Ketakutan, maka ia belajar Gelisah
Jika anak dibesarkan dengan Rasa Iba, maka ia belajar Menyesali Diri

Jika anak dibesarkan dengan Olok-Olok, maka ia belajar Rendah Diri
Jika anak dibesarkan dengan Iri Hati, maka ia belajar Kedengkian
Jika anak dibesarkan dengan Dorongan, maka ia belajar Percaya Diri

Jika anak dibesarkan dengan Toleransi, maka ia belajar Menahan Diri
Jika anak dibesarkan dengan Pujian, maka ia belajar Menghargai
Jika anak dibesarkan dengan Penerimaan, maka ia belajar Mencintai

Jika anak dibesarkan dengan Dukungan, maka ia belajar Menyenangi Diri
Jika anak dibesarkan dengan Pengakuan, maka ia belajar Mengenali Tujuan
Jika anak dibesarkan dengan Berbagi, maka ia belajar Kedermawanan

Jika anak dibesarkan dengan Rasa Kejujuran dan Keterbukaan, maka ia belajar Kebenaran dan Keadilan
Jika anak dibesarkan dengan Rasa Aman, maka ia belajar Menaruh Kepercayaan

Jika anak dibesarkan dengan Persahabatan, maka ia belajar Menemukan Cinta dalam Hidup
Jika anak dibesarkan dengan Ketentraman, maka ia belajar Berdamai dengan Pikiran.


By: Dorothy Law Nolte

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cinta - Matematika

cinta itu ibarat belajar matematika kita gak bisa langsung tau jawabannya tapi kita harus memakai rumus yang tepat untuk mendapatkan hasil yang benar sama seperti cinta.... cinta itu gak bisa langsung ke jenjang yang serius tapi harus didahului dulu dengan hubungan2 kecil baru kita bisa mendapatkan cinta yang sesungguhnya..  cinta yang tak pernah salah memilih orang cinta yang menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain cinta yang setia sampai akhir hayatnya cinta yang selalu mengorbankan sesuatu cinta yang selalu menghargai kedua pasangan dan cinta yang tak pernah berdusta.. by: Jessica Amazy

Iuxta Dominicam viventes

Sebuah kisah mengharukan mengenai makna hari Minggu terjadi pada tahun 304, saat umat Kristen hidup dalam penganiyaan oleh Kaisar Diokletianus. Ada sekelompok umat Kristen yang amat setia dalam iman di Abitinia, sebuah desa kecil di Tunisia. Pada waktu itu Kaisar melarang umat Kristen memiliki dan membaca Kitab Suci dan berkumpul pada hari Minggu untuk merayakan Ekaristi. Akan tetapi, kelompok umat Kristen yang berjumlah 49 orang di Abitinia itu tetap berkumpul di rumah Felix Octavius dan mereka merayakan Ekaristi. Mereka ditangkap dan dibawa ke Kartago untuk diadili. Ketika ditanya mengapa mereka melanggar perintah Kaisar, mereka menjawab:   Sine Dominico non possumus  – “tanpa hari Minggu kami tidak dapat hidup. Bila kami tidak berkumpul dan merayakan Ekaristi, kami tidak memiliki kekuatan untuk menghadapi masalah hidup kami sehari-hari.” Demi kesetiaan iman, ke-49 orang Kristen itu disiksa dan akhirnya dimartir. Mereka berpegang pada iman dengan menumpahkan darah. Mereka ...

Undangan Kristus untuk tinggal dalam Dia

Undangan untuk tinggal dalam Kristus adalah undangan Tuhan Yesus sendiri kepada kita, semua murid2-Nya. Setiap perayaan Ekaristi menjadi saat kita diundang oleh Tuhan sendiri. Tuhan sendirilah yang sebenarnya menjadi Tuan Rumah, pihak yang mengundang kita. Bila kita pergi ke Misa Kudus, hati kita sebenarnya digerakkan oleh Roh Kudus sendiri yang membawa kita kepada Allah Bapa melalui Kristus. Sedangkan Roh Kudus sendiri menggerakkan hati kita dengan aneka kemungkinan cara dan bentuk. Kita datang ke gereja bisa karena sedang bertugas, atau karena ingin mendengarkan homili pastor A yang memang bagus, atau karena kita ini tim atau seksi liturgi, atau memang karena ingin berjumpa dengan Tuhan. Dalam perayaan Ekaristi itu, kita diundang Tuhan untuk tinggal bersama Dia, yaitu: saat Tuhan mengumpulkan umat-Nya (Ritus Pembuka), saat Dia bersabda dan mengobarkan hati kita (Liturgi Sabda), saat Dia memberikan diri dan hidup-Nya agar bersatu dan tinggal dengan kita (Liturgi Ekaristi), dan saat Di...